Nasional

Berpulangnya Romo Mudji Sutrisno, SJ, Suara Jernih di Tengah Riuh Zaman

Dengan duka mendalam, kita menerima kabar wafatnya Romo Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, pada 28 Desember 2025 pukul 20.43 WIB akibat serangan jantung, setelah sempat mendapat perawatan di RS Carolus, Jakarta. Kepergian Romo Mudji menutup satu bab penting dalam perjalanan intelektual, kebudayaan, dan spiritual Indonesia. Jenazah beliau akan dimakamkan di Taman Pemakaman Maria Ratu Damai, Girisonta, Semarang, meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus oleh waktu.

Romo Mudji lahir di Surakarta, 12 Agustus 1954, dan mengabdikan hidupnya sebagai imam Serikat Yesus (SJ), filsuf, pendidik, serta budayawan. Pendidikan filsafatnya ditempa di STF Driyarkara, dilanjutkan hingga meraih doktor filsafat di Universitas Gregoriana, Roma, dengan pengalaman akademik lintas budaya termasuk di Sophia University, Tokyo. Formasi intelektual itu menjadikannya sosok yang piawai menjembatani refleksi filosofis dengan realitas hidup sehari-hari.

Sebagai pendidik, Romo Mudji dikenal luas melalui pengabdiannya di STF Driyarkara dan pascasarjana Universitas Indonesia. Di ruang kelas, ia bukan sekadar pengajar konsep, melainkan penuntun cara berpikir—mengajak mahasiswa merawat nalar, kepekaan etis, dan keberanian bertanya. Ia memandang filsafat sebagai kerja pemerdekaan: membebaskan manusia dari kebekuan berpikir dan ketakutan bersikap.

Di ranah publik, keterlibatan sosial Romo Mudji melampaui tembok akademik. Ia pernah terlibat dalam KPU RI, aktif dalam berbagai forum kebudayaan dan demokrasi, serta dikenal sebagai penggerak literasi dan dialog kebangsaan. Gagasannya hadir sebagai kritik yang jernih—tegas namun berempati—menawarkan jalan tengah di tengah polarisasi dan kegaduhan zaman.

Kedekatannya dengan dunia seni memperlihatkan sisi lain dari Romo Mudji: ia berkarya lewat sketsa dan pameran seni, menghadirkan bahasa visual sebagai medium permenungan sosial dan spiritual. Seni, baginya, adalah cara lain membaca kenyataan—sebuah ruang hening untuk merawat kemanusiaan dan perdamaian di tengah riuh politik dan perubahan cepat.

Warisan intelektual Romo Mudji terhimpun dalam puluhan buku yang membentang dari filsafat, estetika, pendidikan, hingga esai kebudayaan dan puisi. Karya-karya seperti “Zen dan Fransiskus,” “Estetika: Filsafat Keindahan,” “Getar-Getar Peradaban,” “Demokrasi: Semudah Ucapankah?,” “Driyarkara: Filsuf yang Mengubah Indonesia,” hingga kumpulan puisi “Semai Kata” menandai konsistensinya merawat dialog antara iman, nalar, dan kehidupan publik.

Kepergian Romo Mudji Sutrisno, SJ, adalah kehilangan besar bagi dunia pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan berbangsa. Namun gagasan, teladan, dan keberpihakannya pada martabat manusia akan terus hidup—menjadi kompas bagi generasi yang mencari kedalaman di tengah permukaan, dan kejernihan di tengah keramaian. Selamat jalan, Romo. Terima kasih atas cahaya yang telah Engkau nyalakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *