Pakar Sebut Hasil TKA Cermin Kegagalan Logika Siswa

Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang baru saja dirilis kembali memicu gelombang diskusi hangat di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan di Indonesia. Skor rata-rata nasional yang menunjukkan tren stagnan, bahkan cenderung menurun di beberapa sub-materi krusial seperti Literasi Numerasi dan Penalaran Matematika, menjadi sorotan tajam.
Sejumlah pakar pendidikan dari berbagai universitas ternama memberikan catatan kritis terkait hasil ini. Mereka sepakat bahwa nilai TKA bukan sekadar angka untuk seleksi masuk perguruan tinggi, melainkan cermin retak dari kualitas sistem pendidikan dasar dan menengah kita yang selama ini terjebak dalam pola hafalan ketimbang penalaran.
Potret Buram Literasi dan Numerasi
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan evaluasi pendidikan nasional, skor TKA tahun ini menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar antara sekolah di daerah perkotaan dengan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Rakhmat Hidayat, menilai bahwa hasil ini adalah konsekuensi logis dari kegagalan kita dalam mentransformasi ruang kelas menjadi tempat berpikir kritis.
“Skor TKA yang rendah pada bagian penalaran menunjukkan bahwa siswa kita masih sangat lemah dalam melakukan abstraksi dan pemecahan masalah. Mereka mungkin hafal rumus, tetapi ketika dihadapkan pada soal kontekstual yang membutuhkan analisis mendalam, mereka goyah,” ujar Dr. Rakhmat dalam sebuah diskusi daring yang dikutip dari Kompas.
Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada tingkat kesulitan soal, melainkan pada kurikulum yang terlalu padat sehingga guru seringkali mengejar target penyelesaian materi daripada kedalaman pemahaman siswa. “Kita mendidik anak-anak untuk menjadi ‘kamus berjalan’, bukan pemikir yang tangguh,” tambahnya.
Dampak Pandemi yang Belum Pulih (Learning Loss)
Sementara itu, pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji, melalui ulasannya di Republika, menyoroti adanya efek jangka panjang dari kehilangan masa belajar atau learning loss akibat pandemi COVID-19. Meskipun kegiatan belajar mengajar telah kembali normal, fondasi akademik siswa yang seharusnya dibangun selama masa pandemi ternyata rapuh.
“Hasil TKA tahun ini adalah angkatan yang menghabiskan masa transisi mereka di sekolah menengah selama pandemi. Kita melihat adanya lubang besar dalam pemahaman konsep dasar matematika dan sains. Jika lubang ini tidak segera ditambal melalui program matrikulasi yang serius di level pendidikan tinggi, kualitas lulusan sarjana kita empat tahun ke depan akan terancam,” tegas Indra.
Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai terlalu fokus pada perubahan label kurikulum (dari K-13 ke Kurikulum Merdeka) tanpa menyentuh esensi peningkatan kualitas guru secara masif dan merata. Menurut Indra, kurikulum secanggih apa pun tidak akan membuahkan hasil TKA yang baik jika kompetensi guru dalam mengajarkan metode penalaran masih terbatas.
Ketimpangan Akses dan Fasilitas
Sumber ketiga dari detikEdu menyoroti perspektif dari Prof. Cecep Darmawan, pakar kebijakan pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Beliau menekankan bahwa hasil TKA mencerminkan ketidakadilan sistemik. Siswa yang memiliki akses ke bimbingan belajar (bimbel) berbayar cenderung memiliki skor yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah.
“TKA akhirnya menjadi ajang ‘adu modal’. Anak-anak dari keluarga mampu mendapatkan teknik-teknik menjawab soal cepat di luar sekolah, sementara siswa dari keluarga prasejahtera harus berjuang dengan fasilitas sekolah yang terbatas. Ini adalah alarm bagi pemerintah bahwa ujian standar nasional seringkali justru memperlebar jurang sosial,” jelas Prof. Cecep.
Beliau menyarankan agar pemerintah melakukan evaluasi total terhadap format seleksi masuk perguruan tinggi agar tidak hanya berbasis pada tes akademik yang bisa “dilatih” lewat bimbel, tetapi juga mempertimbangkan portofolio dan capaian non-akademik secara lebih proporsional.
Bedah Materi: Mengapa Penalaran Matematika Menjadi Menakutkan
Jika kita membedah lebih dalam hasil TKA, bagian Penalaran Matematika dan Literasi Bahasa Inggris menjadi dua bidang dengan skor terendah secara nasional. Para pakar melihat ini sebagai indikasi bahwa logika formal siswa tidak terasah.
Dalam matematika, misalnya, soal-soal TKA kini mulai beralih dari sekadar hitungan mekanistis menjadi soal cerita yang membutuhkan logika deduktif. “Siswa kita seringkali gagal memahami apa yang ditanyakan dalam soal cerita. Ini berarti masalahnya bukan hanya di kemampuan hitung, tapi di kemampuan literasi bacaan. Mereka tidak mampu membedakan informasi relevan dan tidak relevan dalam sebuah teks,” kata Dr. Rakhmat Hidayat.
Tabel: Rata-Rata Skor TKA Berdasarkan Wilayah (Simulasi Data)
| Wilayah | Literasi Bahasa Indonesia | Penalaran Matematika | Literasi Bahasa Inggris |
| Jawa & Bali | 580 | 510 | 525 |
| Sumatera | 540 | 480 | 490 |
| Kalimantan | 520 | 460 | 470 |
| Sulawesi | 515 | 455 | 465 |
| Papua & Maluku | 490 | 420 | 430 |
Solusi yang Ditawarkan Para Pakar
Menghadapi kenyataan pahit dari hasil TKA ini, para pakar pendidikan menawarkan beberapa solusi jangka pendek dan jangka panjang yang harus segera diambil oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek):
1. Perubahan Paradigma Evaluasi di Sekolah
Sekolah harus mulai meninggalkan model ujian pilihan ganda yang hanya menuntut hafalan. Guru harus dibiasakan memberikan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) sejak dini, bahkan dari tingkat sekolah dasar.
2. Pemerataan Kualitas Guru
Fokus pemerintah tidak boleh lagi hanya pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi pada distribusi guru berkualitas. Guru-guru terbaik harus dikirim ke daerah 3T dengan insentif yang memadai agar kesenjangan skor TKA dapat ditekan.
3. Integrasi Literasi di Semua Mata Pelajaran
Literasi bukan hanya tugas guru Bahasa Indonesia. Semua guru, termasuk guru olahraga dan seni, harus mengintegrasikan kemampuan membaca, memahami teks, dan berpikir logis ke dalam mata pelajaran mereka.
4. Optimalisasi Teknologi Pendidikan
Pemerintah perlu memperkuat platform belajar digital yang menyediakan akses latihan soal standar TKA secara gratis bagi seluruh siswa di Indonesia, guna mengurangi ketergantungan pada bimbel mahal.
Pendidikan Bukan Sekadar Angka
Hasil TKA tahun ini seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Pendidikan bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan skor tinggi demi masuk ke universitas favorit. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu berpikir, menganalisis, dan memecahkan masalah kehidupan.
“Kita tidak boleh hanya menyalahkan siswa atau guru. Hasil TKA ini adalah hasil dari sebuah sistem. Jika hasilnya buruk, maka sistemnya yang harus diperbaiki secara struktural, bukan sekadar mengganti istilah-istilah teknis dalam kebijakan,” tutup Indra Charismiadji.
Diharapkan dengan adanya evaluasi mendalam dari para pakar ini, pemerintah dapat mengambil langkah taktis agar di tahun-tahun mendatang, skor TKA tidak lagi sekadar menjadi potret kegagalan, melainkan bukti keberhasilan transformasi pendidikan Indonesia.
