Jelang Pergantian Tahun, Pedagang Kembang Api Sebut Penjualan Naik Hingga Dua Kali Lipat

Menjelang malam pergantian Tahun Baru, penjualan kembang api dan petasan kembali menjadi salah satu aktivitas ekonomi musiman yang ramai di berbagai daerah di Indonesia. Dari kota besar hingga daerah pinggiran, lapak-lapak penjual kembang api mulai bermunculan, menawarkan beragam jenis produk dengan harga bervariasi. Momen akhir tahun ini menjadi kesempatan bagi para pedagang untuk meraup keuntungan setelah sepi penjualan di bulan-bulan sebelumnya.
Sejumlah pedagang mengakui bahwa permintaan kembang api biasanya mulai meningkat sejak pertengahan Desember dan mencapai puncaknya pada dua hingga tiga hari menjelang malam Tahun Baru. Jenis kembang api yang paling diminati antara lain kembang api tembak, air mancur, serta petasan berukuran kecil yang dianggap lebih aman untuk penggunaan keluarga.
Salah satu pedagang kembang api di kawasan Jabodetabek, Andi, mengatakan bahwa penjualan tahun ini menunjukkan tren yang cukup positif. Ia mengaku permintaan meningkat signifikan dibandingkan hari biasa. “Kalau hari normal paling jual sedikit-sedikit, tapi jelang Tahun Baru ini bisa naik dua kali lipat. Dalam sehari bisa habis puluhan dus,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Menurut Andi, pembeli tidak hanya datang dari kalangan remaja, tetapi juga keluarga yang ingin merayakan malam Tahun Baru bersama anak-anak. Harga kembang api yang dijual pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis dan ukuran. “Yang paling laku itu kembang api kecil sampai sedang. Kalau yang besar biasanya dibeli ramai-ramai,” katanya.
Hal serupa disampaikan oleh Siti, pedagang kembang api musiman di wilayah Jawa Tengah. Ia mengaku sengaja membuka lapak hanya menjelang akhir tahun karena momen ini dinilai paling menguntungkan. “Setahun cuma jualan kembang api pas Desember. Tapi alhamdulillah hasilnya lumayan buat nambah kebutuhan rumah,” ujarnya.
Siti menambahkan bahwa modal yang dikeluarkan untuk berjualan kembang api cukup besar, sehingga pedagang harus pandai membaca pasar. Jika stok terlalu banyak dan tidak habis terjual, risiko kerugian cukup tinggi. Oleh karena itu, sebagian pedagang memilih menjual produk yang sudah pasti diminati masyarakat.
Dari sisi distribusi, kembang api yang dijual pedagang umumnya berasal dari distributor besar di kota-kota tertentu. Pedagang kecil biasanya mengambil stok dalam jumlah terbatas untuk menyesuaikan dengan daya beli masyarakat setempat. Faktor cuaca dan aturan pemerintah juga turut memengaruhi penjualan.
Di beberapa daerah, penjualan dan penggunaan kembang api dibatasi oleh peraturan setempat demi menjaga keamanan dan ketertiban. Hal ini membuat pedagang harus lebih selektif dalam menjual produknya. “Sekarang lebih banyak yang aman dan tidak terlalu keras. Pembeli juga mulai sadar soal keselamatan,” kata Andi.
Pengamat ekonomi menilai fenomena penjualan kembang api jelang Tahun Baru sebagai bagian dari perputaran ekonomi musiman. Meski berlangsung singkat, aktivitas ini memberikan dampak bagi sektor informal dan usaha kecil. Perputaran uang dari penjualan kembang api, meski tidak tercatat secara besar dalam statistik nasional, tetap berkontribusi pada ekonomi lokal.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tetap memperhatikan aspek keselamatan dalam penggunaan kembang api. Penggunaan yang tidak sesuai aturan dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Kesadaran ini dinilai penting agar perayaan Tahun Baru tetap berjalan meriah tanpa menimbulkan insiden yang tidak diinginkan.
Bagi para pedagang, malam Tahun Baru menjadi puncak penjualan sekaligus penentu keberhasilan usaha musiman mereka. Banyak dari mereka berharap cuaca mendukung dan situasi tetap kondusif agar penjualan berjalan lancar. “Harapannya malam tahun baru ramai dan aman, jadi sama-sama senang, penjual dapat untung, pembeli juga puas,” tutup Siti.
