Ekonomi

Produksi Minyak Nilam Purbalingga Meningkat, Bappenas Tinjau Peluang Pengembangan Industri

PURBALINGGA – Produksi minyak nilam di Kabupaten Purbalingga terus menunjukkan perkembangan yang positif. Pada 2025, produksi minyak nilam tercatat mencapai 95.950 kilogram atau sekitar 95,95 ton, meningkat sekitar 71,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 55.900 kilogram. Peningkatan tersebut menarik perhatian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang meninjau potensi pengembangan komoditas nilam hingga tahap hilirisasi.

Meningkatnya produksi nilam tidak terlepas dari bertambahnya luas lahan tanam yang kini mencapai 58 hektare, naik dari 29 hektare pada tahun sebelumnya. Selain itu, harga daun nilam kering yang kembali membaik di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram juga mendorong petani untuk kembali membudidayakan tanaman tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Prayitno, mengatakan bahwa sebelumnya harga daun nilam sempat turun drastis sehingga banyak petani memilih berhenti menanamnya.

“Sebelumnya harga pernah jatuh hanya Rp2.500 per kilogram daun kering, sehingga petani enggan menanam nilam. Saat ini harga semakin membaik pasca bencana alam di wilayah Aceh yang menjadi sentra tanaman nilam,” katanya, Senin (13/7/2026).

Saat ini, sentra budidaya nilam di Kabupaten Purbalingga tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Karangreja, Kutasari, Karangjambu, Rembang, dan Karangmoncol. Petani di daerah tersebut mengembangkan varietas Sidikalang yang dikenal memiliki kualitas minyak yang baik serta lebih tahan terhadap serangan penyakit.

Pengembangan tanaman nilam di Purbalingga juga mendapat dukungan dari PT Indika Nature melalui program Natura Aromatik Nusantara. Program tersebut menargetkan pengembangan lahan inti seluas 10 hektare dan lahan kemitraan seluas 26,8 hektare dengan melibatkan sekitar 70 petani. Melalui program ini, produksi minyak nilam ditargetkan mencapai 1.500 kilogram.

Perkembangan komoditas nilam di Purbalingga juga menarik perhatian Bappenas. Tim yang dipimpin Direktur Koperasi dan UMKM Bappenas, Mahatmi Prawitasari Saronto, melakukan kunjungan untuk melihat langsung potensi budidaya sekaligus peluang pengembangan industri pengolahan minyak nilam.

Menurut Mahatmi, Purbalingga dipilih karena memiliki hasil produksi yang baik dan berpeluang memenuhi kebutuhan pasar internasional.

“Kami memilih wilayah Purbalingga karena produksi nilamnya bagus dan menjadi incaran konsumen dari Swiss maupun negara lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memasok sekitar 90 persen kebutuhan minyak nilam dunia dengan nilai ekspor mencapai sekitar 150 juta dolar Amerika Serikat setiap tahun. Oleh karena itu, pengembangan industri pengolahan minyak nilam dinilai dapat meningkatkan nilai jual produk sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Melalui pengembangan dari tahap budidaya hingga pengolahan, pemerintah berharap minyak nilam tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga mampu menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat lebih besar bagi petani dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Purbalingga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *