Jajan

Sering Diabaikan, Inilah Ciri-Ciri Jajanan Sekolah Beracun yang Wajib Diketahui Setiap Orang Tua

Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) di Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi dunia kesehatan dan pendidikan. Anak-anak usia sekolah merupakan kelompok yang paling rentan terhadap paparan zat kimia berbahaya karena mereka belum memiliki kemampuan untuk membedakan makanan yang aman dan yang tidak. Selain itu, sistem metabolisme tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan, sehingga racun yang masuk ke dalam tubuh dapat memberikan dampak yang jauh lebih merusak dibandingkan pada orang dewasa.

Setiap harinya, jutaan anak sekolah di Indonesia mengonsumsi jajanan yang dijual di sekitar lingkungan sekolah. Namun, di balik rasa yang gurih dan warna yang menggiurkan, terdapat ancaman tersembunyi berupa Bahan Tambahan Pangan yang dilarang atau penyalahgunaan bahan kimia industri ke dalam makanan.

  1. Jenis Bahan Kimia Berbahaya yang Sering Ditemukan

Berdasarkan pemantauan laboratorium yang sering dilakukan oleh otoritas kesehatan, ada empat jenis bahan kimia utama yang paling sering disalahgunakan dalam jajanan anak sekolah.

Pertama adalah formalin. Formalin pada dasarnya adalah larutan kimia yang digunakan untuk mengawetkan mayat, disinfektan, serta bahan baku industri kayu dan tekstil. Sifatnya yang mampu membunuh bakteri dengan cepat sering dimanfaatkan oleh oknum pedagang untuk mengawetkan makanan yang mudah busuk seperti mie basah, tahu, dan ikan asin. Penggunaan formalin dalam makanan dilarang keras karena sifatnya yang sangat beracun.

Kedua adalah boraks atau yang sering disebut sebagai pijer atau gendar. Senyawa ini sebenarnya diperuntukkan bagi industri non-pangan, seperti pembuatan gelas, deterjen, dan salep kulit. Dalam jajanan sekolah, boraks sering ditambahkan ke dalam bakso, cilok, atau kerupuk untuk memberikan tekstur yang sangat kenyal dan renyah. Boraks bekerja dengan cara memperkuat ikatan gluten, namun zat ini sangat berbahaya jika masuk ke dalam sistem pencernaan manusia.

Ketiga dan keempat adalah pewarna sintetis non-pangan, yaitu Rhodamin B (pewarna merah) dan Kuning Metanil (Methanil Yellow). Kedua zat ini merupakan pewarna tekstil, kertas, dan cat. Pedagang sering menggunakannya karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan pewarna makanan (food grade) dan memberikan warna yang sangat cerah sehingga menarik perhatian anak-anak.

  1. Cara Mengenali Jajanan yang Mengandung Bahan Berbahaya

Meskipun membutuhkan uji laboratorium untuk hasil yang pasti, masyarakat dapat mengenali ciri-ciri fisik jajanan yang patut dicurigai mengandung bahan berbahaya melalui pengamatan panca indera.

Untuk makanan yang mengandung formalin, ciri yang paling menonjol adalah daya tahannya yang tidak wajar. Mie basah yang mengandung formalin biasanya tetap segar dan tidak basi meskipun sudah disimpan selama dua hingga tiga hari di suhu ruangan. Teksturnya pun sangat liat dan tidak mudah putus. Selain itu, makanan berformalin cenderung tidak dihinggapi oleh lalat atau serangga lainnya karena adanya aroma obat yang menyengat.

Pada makanan yang mengandung boraks, ciri utamanya adalah tekstur yang sangat kenyal atau membal. Jika sebuah bakso dilemparkan ke lantai dan membal seperti bola karet, maka ada indikasi kuat penggunaan boraks di dalamnya. Selain itu, makanan yang mengandung boraks seringkali memberikan rasa getir atau sedikit pahit yang tertinggal di lidah setelah dikonsumsi.

Sementara itu, jajanan yang menggunakan pewarna tekstil dapat dikenali dari warnanya yang sangat mencolok atau terlihat “menyala”. Warna merah atau kuningnya seringkali tidak merata dan terdapat bintik-bintik warna yang menggumpal. Jika dikonsumsi, pewarna ini biasanya meninggalkan noda yang sulit hilang pada lidah atau tangan, serta dapat menyebabkan rasa gatal yang hebat pada tenggorokan.

  1. Dampak Kesehatan Jangka Pendek dan Panjang

Dampak yang ditimbulkan oleh bahan kimia ini tidak selalu terlihat seketika, namun kerusakan yang terjadi di dalam tubuh bersifat progresif dan permanen.

Dampak jangka pendek atau akut biasanya muncul dalam hitungan jam setelah konsumsi. Anak-anak mungkin akan mengalami mual, muntah, diare, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan. Dalam kasus paparan boraks yang tinggi, anak bisa mengalami demam dan kerusakan pada selaput lendir. Formalin pun dapat menyebabkan iritasi parah pada lambung jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup banyak dalam satu waktu.

Namun, yang lebih berbahaya adalah dampak jangka panjangnya. Bahan-bahan seperti formalin dan pewarna tekstil bersifat karsinogenik, artinya dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Zat-zat ini tidak dapat dikeluarkan sepenuhnya oleh tubuh dan akan menumpuk di organ-organ vital seperti hati dan ginjal. Selama bertahun-tahun, akumulasi ini akan merusak fungsi organ tersebut, menyebabkan gagal ginjal kronis atau kanker hati di masa depan.

Boraks juga memiliki efek negatif pada sistem saraf pusat. Paparan boraks yang terus-menerus pada anak-anak dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, lemas, hingga gangguan pada fungsi otak yang menghambat proses belajar mereka. Selain itu, bagi anak laki-laki, beberapa studi menunjukkan bahwa paparan boraks dapat mengganggu kesehatan sistem reproduksi di masa dewasa.

  1. Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mitigasi Risiko

Mengingat risiko yang begitu besar, diperlukan langkah nyata untuk melindungi anak-anak dari ancaman jajanan berbahaya. Peran utama terletak pada pengawasan orang tua dan kebijakan sekolah.

Orang tua sangat disarankan untuk membiasakan anak membawa bekal dari rumah. Bekal yang disiapkan sendiri menjamin kebersihan bahan baku, penggunaan minyak goreng yang sehat, serta bebas dari zat kimia berbahaya. Selain itu, orang tua perlu memberikan edukasi kepada anak mengenai cara memilih jajanan yang aman, seperti menghindari makanan yang warnanya terlalu cerah atau makanan yang dibungkus plastik dengan cara yang tidak higienis.

Di sisi lain, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengelola kantin sehat. Pihak sekolah dapat melakukan seleksi terhadap pedagang yang diizinkan berjualan di area sekolah. Sekolah juga bisa bekerja sama dengan Puskesmas terdekat untuk melakukan inspeksi rutin dan uji sampel makanan secara berkala. Sosialisasi mengenai keamanan pangan harus menjadi bagian dari kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler agar siswa memiliki kesadaran mandiri.

Pemerintah melalui BPOM juga terus melakukan kampanye nasional mengenai Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah. Langkah ini mencakup pemberian sertifikasi kantin sehat dan edukasi bagi para pedagang mengenai bahaya penggunaan zat kimia non-pangan. Dengan adanya sinergi antara pemerintah, sekolah, dan orang tua, diharapkan angka keracunan pangan dan risiko penyakit degeneratif pada anak akibat jajanan berbahaya dapat ditekan seminimal mungkin.

Menjaga apa yang masuk ke dalam tubuh anak adalah investasi jangka panjang. Anak-anak yang sehat secara fisik dan terhindar dari paparan zat beracun akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan produktif bagi masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *