Prediksi Lebaran NU-Muhammadiyah Serentak, Simak Ulasannya
Nribun-nasional. Peluang selisih jadwal Idul Fitri tahun ini kembali jadi sorotan. Meski begitu, kans Nahdlatul Ulama serta Muhammadiyah merayakan Lebaran secara serempak tetap ada. Hal ini berdasarkan data hitungan hisab yang dikelola Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama.
Merujuk rekap tersebut, saat rukyatul hilal 1 Syawal pada 19 Maret nanti, posisi ketinggian bulan di beberapa titik diperkirakan sudah berada di angka 3 derajat.
Anggota BHR Kemenag Tuban, Kasdikin menyebutkan, beberapa kawasan di Indonesia bagian barat diproyeksi punya posisi hilal yang cukup tinggi. Lokasi itu mencakup wilayah Medan, Aceh, Padang, hingga Jambi.
“Melihat kondisi itu, kemungkinan Idul Fitri bisa bersamaan,” ucap Kasdikin kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Walau demikian, keadaan itu belum sepenuhnya cocok dengan kriteria mufakat Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, serta Singapura (MABIMS).
Dalam kesepakatan itu, transisi bulan hijriah sah jika tinggi hilal paling sedikit 3 derajat dengan elongasi—jarak sudut bulan-matahari—sebesar 6,4 derajat.
Menurut Kasdikin, walaupun tinggi hilal di sejumlah titik nyaris 3 derajat, angka elongasinya rupanya belum memenuhi standar yang ditetapkan.
“Sebab walau tinggi hilal 3 derajat, jarak elongasi belum tembus 6 derajat. Contohnya di Medan elongasi baru sekitar 5 derajat,” tutur kepala KUA Rengel tersebut.
Oleh sebab itu, penentuan 1 Syawal tetap menanti hasil sidang isbat yang bakal dilaksanakan pihak pemerintah pada tanggal 19 Maret.
Pemerintah akan memutuskan apakah tetap memakai standar MABIMS secara utuh atau mulai menimbang tinggi hilal yang sudah mencapai 3 derajat di sejumlah area.
Jika pemerintah menetapkan awal Syawal murni dari tinggi hilal 3 derajat tanpa mematok syarat elongasi MABIMS, maka Lebaran berpeluang jatuh pada 20 Maret.
Apabila skema itu terjadi, momen Idul Fitri kemungkinan besar berbarengan dengan Muhammadiyah yang sudah menetapkan 1 Syawal pada tanggal tersebut.
Adapun bagi wilayah Tuban, data perhitungan menunjukkan posisi hilal saat waktu rukyatul nanti diprediksi belum mampu menyentuh angka 3 derajat.
Sebab itu, kepastian nampak atau tidaknya bulan tetap harus menunggu proses observasi lapangan secara langsung pada tanggal 19 Maret.
“Mari kita nantikan saja keputusan sidang isbat pada 19 Maret,” pungkas Kasdikin.
