Nasional

Harga Bahan Pokok Melonjak Ekstrem di Gayo, Beras Tembus Rp1,5 Juta per 10 Liter, Warga Terancam Krisis Pangan

ACEH TENGAH – Kondisi ekonomi dan kemanusiaan masyarakat di wilayah Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, kian memprihatinkan. Lonjakan harga bahan pokok terjadi secara drastis di tengah akses jalan yang terputus akibat bencana, membuat distribusi logistik tersendat dan daya beli warga semakin tertekan.

Informasi tersebut terungkap dari sejumlah unggahan warga di media sosial yang menggambarkan situasi pasar, harga kebutuhan pokok, serta kondisi lapangan di wilayah terdampak. Warga menyebut pasar mulai kembali beroperasi dan pedagang sudah beraktivitas, namun harga kebutuhan sehari-hari melonjak jauh dari kondisi normal.

Dalam salah satu unggahan, warga merinci harga bahan pokok yang kini sulit dijangkau masyarakat kecil. Beras dijual dengan harga Rp370.000 hingga Rp460.000 per 15 kilogram. Telur mencapai Rp160.000 per papan, ikan asin Rp30.000 per ons, minyak Pertamax berkisar Rp35.000–Rp45.000 per liter, sementara harga solar menembus Rp45.000 per liter. Harga tempe yang biasanya Rp5.000 per potong kini melonjak menjadi Rp10.000 hingga Rp15.000.

Kondisi lebih parah terjadi pada beras lokal atau beras kampung. Seorang warga melaporkan bahwa harga beras lokal di Pasar Paya Ilang kini mencapai Rp150.000 untuk dua liter. Padahal, pada kondisi normal, beras lokal dijual sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 per 10 liter atau satu kaleng.

“Hari ini menjadi Rp1.500.000 per 10 liter. Ini harga beras termahal tahun 2025,” tulis warga dalam unggahan tersebut. Kenaikan harga yang ekstrem ini membuat sebagian warga mengaku tidak sanggup membeli beras, bahkan dalam jumlah kecil.

Di sisi lain, terputusnya akses jalan semakin memperburuk situasi. Unggahan foto menunjukkan warga harus berjalan kaki secara berbondong-bondong melewati jalur KKA yang rusak dan tertimbun material longsor untuk mencari bahan pokok makanan. Jalan yang seharusnya menjadi jalur distribusi utama kini tidak bisa dilalui kendaraan, sehingga pasokan logistik menjadi sangat terbatas.

“Mereka berbondong-bondong berjalan kaki untuk mencari bahan pokok makanan di jalan KKA yang terputus,” tulis keterangan dalam salah satu unggahan, disertai doa agar warga diberi kesehatan dan keselamatan.

Kondisi darurat ini juga berdampak pada penyaluran bantuan. Dalam pesan yang beredar di grup percakapan, relawan menyampaikan bahwa bantuan makanan belum dapat disalurkan, meskipun warga di beberapa titik mengalami kelaparan. Bantuan yang sementara diberikan baru berupa selimut untuk membantu warga bertahan dari kondisi cuaca dingin.

“Mohon maaf kita belum bisa salurkan bantuan makanan walaupun mereka di sini kelaparan. Kita salurkan bantuan selimut semoga bisa menghangatkan saudara-saudara kita,” tulis pesan tersebut.

Potret dampak bencana juga terlihat dari unggahan foto rumah warga di kawasan Pedekok, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, yang mengalami kerusakan berat. Dalam foto tersebut, seorang warga tampak berdiri di depan rumahnya yang rusak sambil menerima bantuan.

Situasi di Gayo turut menjadi sorotan media cetak lokal. Salah satu edisi surat kabar menampilkan headline bernada pilu bertajuk “Gayo Masih Terkurung”, disertai kutipan pernyataan warga, “Kalau tidak ada makanan, kirimkan kami kain kafan.” Unggahan tersebut mendapat respons luas dari warganet yang menyebut kondisi warga Gayo sebagai krisis kemanusiaan yang mendesak.

Lonjakan harga bahan pokok, terputusnya akses jalan, serta keterbatasan bantuan pangan membuat masyarakat kecil menjadi kelompok paling terdampak. Kondisi ini memicu keprihatinan luas dan harapan agar pemulihan akses jalan, distribusi logistik, serta penanganan kebutuhan dasar warga dapat segera dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *