Dugaan Perpaduan Virus dan Serangan Trips di Balik Maraknya Gurem pada Tanaman Bawang Merah

Fenomena serangan gurem pada tanaman bawang merah kembali menjadi perhatian serius di berbagai sentra produksi nasional. Dalam beberapa waktu terakhir, petani bawang merah di sejumlah daerah seperti Brebes dan Tegal di Jawa Tengah, Kulonprogo di Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Nganjuk di Jawa Timur melaporkan kerusakan tanaman yang terjadi secara masif dan cepat. Tanaman bawang merah yang terdampak menunjukkan gejala menguning, mengering, dan tampak seolah-olah mengalami kekurangan air, padahal kondisi pengairan dan kelembapan tanah relatif normal.
Akibat serangan tersebut, tingkat kerugian yang dialami petani terbilang sangat besar. Pada tanaman berumur sekitar 35 hari setelah tanam, penurunan hasil panen dapat mencapai 60 persen. Sementara itu, apabila serangan terjadi lebih awal, yakni ketika tanaman masih berusia sekitar 25 hari, risiko gagal panen total atau puso menjadi sangat tinggi. Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran, mengingat bawang merah merupakan komoditas strategis dengan nilai ekonomi yang penting bagi petani maupun pasar nasional.
Di tingkat petani, gangguan ini dikenal dengan sebutan gurem atau mreki. Istilah tersebut merujuk pada kondisi tanaman yang tiba-tiba layu, menguning, lalu mati dalam waktu singkat. Selain itu, petani juga sering menjumpai serangga kecil yang beterbangan saat tanaman disentuh. Kejanggalan muncul karena gejala yang tampak tidak sepenuhnya sesuai dengan ciri kekeringan atau serangan hama tunggal yang umum dijumpai selama ini.
Menanggapi banyaknya laporan tersebut, Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) menerima berbagai sampel tanaman dan aduan dari petani. Hasil pengamatan awal di lapangan menunjukkan populasi hama trips yang sangat tinggi. Dalam satu rumpun tanaman, jumlah trips bahkan bisa melebihi 100 individu. Serangga berukuran sangat kecil ini diketahui merusak tanaman dengan cara mengisap cairan sel daun, sehingga menyebabkan perubahan warna, bercak, dan jaringan daun menjadi rusak.
Meskipun demikian, para peneliti menilai bahwa serangan trips saja belum cukup menjelaskan tingkat kerusakan yang begitu parah. Beberapa gejala yang muncul dinilai tidak lazim apabila hanya disebabkan oleh aktivitas hama tersebut. Oleh karena itu, tim peneliti menduga adanya faktor lain yang berperan dan berinteraksi dengan trips dalam memperburuk kondisi tanaman bawang merah.
Kepala Klinik Tanaman IPB, Bonjok Istiaji, menyampaikan bahwa trips diduga tidak hanya berperan sebagai hama perusak, tetapi juga sebagai pembawa atau vektor penyakit. Serangan trips dapat membuka jalan bagi patogen, khususnya virus, untuk masuk ke dalam jaringan tanaman. Selain itu, trips juga memungkinkan penyebaran patogen dari satu tanaman ke tanaman lain secara lebih cepat, terutama ketika populasinya sangat tinggi di lapangan.
Dugaan ini diperkuat oleh temuan tim ahli IPB yang mengidentifikasi adanya spesies trips yang berbeda dari jenis Thrips tabaci yang selama ini dikenal sebagai hama utama bawang merah. Perbedaan spesies ini menimbulkan pertanyaan mengenai karakter dan potensi bahayanya terhadap tanaman. Saat ini, identifikasi lebih lanjut masih dilakukan melalui analisis morfologi dan uji laboratorium guna memastikan jenis trips yang terlibat serta perannya dalam penyebaran penyakit.
Di Kabupaten Brebes, petani juga mengenal gejala lain yang disebut dengan istilah janda pirang. Penyakit ini ditandai dengan daun bawang yang menguning secara cepat tanpa disertai pembusukan pada umbi. Kondisi tersebut kerap terjadi pada tanaman muda dan sering berujung pada puso. Menurut peneliti, istilah janda pirang dan gurem sebenarnya saling berkaitan dan menggambarkan rangkaian gejala dari permasalahan yang sama.
Peneliti IPB menduga bahwa serangan ini merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor utama. Salah satunya adalah keberadaan virus Iris yellow spot virus atau IYSV, yang diketahui dapat menyerang tanaman bawang dan menimbulkan bercak kuning serta gangguan pertumbuhan. Virus ini dikenal dapat ditularkan oleh hama trips, sehingga memperkuat dugaan adanya hubungan erat antara kedua faktor tersebut.
Faktor kedua adalah ledakan populasi trips yang berperan ganda sebagai perusak jaringan tanaman sekaligus penyebar virus. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah kondisi cuaca yang cenderung kering dan panas. Lingkungan seperti ini sangat mendukung perkembangan trips, mempercepat siklus hidupnya, dan meningkatkan intensitas serangan di lahan pertanian.
Kombinasi antara infeksi virus, serangan trips, dan kondisi iklim yang mendukung diyakini menjadi pemicu utama maraknya kasus gurem dan janda pirang pada bawang merah. Hingga saat ini, para peneliti masih terus melakukan kajian lanjutan untuk memastikan penyebab pastinya serta merumuskan strategi pengendalian yang lebih efektif. Diharapkan, hasil penelitian tersebut dapat membantu petani mengantisipasi dan mengurangi kerugian akibat serangan serupa di masa mendatang.
