Ramadhan dalam Perspektif Muhammadiyah: Manifestasi Iman, Ilmu, dan Tajdid

Bagi Persyarikatan Muhammadiyah, bulan Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan menahan lapar dan dahaga. Sebagai organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memandang Ramadhan sebagai momentum integrasi antara keteguhan iman dan kepastian ilmu pengetahuan. Pendekatan ini tercermin mulai dari cara mereka menetapkan awal bulan hingga bagaimana ibadah tersebut diinternalisasikan dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan.
Berdasarkan berbagai keputusan resmi organisasi dan kajian ideologis yang konsisten dijalankan, berikut adalah ulasan mendalam mengenai makna dan pelaksanaan Ramadhan menurut Muhammadiyah.
1. Metode Hisap Hakiki Wujudul Hilal: Kepastian dalam Beribadah
Salah satu karakteristik paling menonjol dari Muhammadiyah dalam menyambut Ramadhan adalah penggunaan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Berbeda dengan metode rukyat (pengamatan mata telanjang) yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan visibilitas fisik, Muhammadiyah bersandar pada perhitungan matematis dan astronomis yang presisi.
Metode Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah mensyaratkan tiga kriteria kumulatif agar bulan baru dinyatakan telah masuk:
- Telah terjadi konjungsi atau ijtima’ antara bulan dan matahari.
- Konjungsi tersebut terjadi sebelum matahari terbenam.
- Pada saat matahari terbenam, piringan atas bulan masih berada di atas ufuk (bulan telah wujud).
Bagi Muhammadiyah, penggunaan hisab adalah bentuk ijtihad modern yang sejalan dengan semangat Al-Quran untuk menggunakan akal dan ilmu pengetahuan. Hal ini memberikan kepastian bagi umat dalam mengatur jadwal ibadah dan urusan publik jauh-jauh hari. Kepastian ini bukan bertujuan untuk menciptakan perbedaan dengan ormas lain, melainkan sebuah pilihan metodologis yang diyakini paling akurat dalam konteks zaman modern.
2. Esensi Puasa: Dari Ritual Menuju Transformasi Sosial
Dalam dokumen resmi seperti Himpunan Putusan Tarjih (HPT), Muhammadiyah menekankan bahwa puasa adalah madrasah ruhaniyah. Namun, dimensi spiritual ini tidak boleh berhenti pada kesalehan individu. Muhammadiyah memandang Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat kesalehan sosial.
Puasa menurut pandangan ini harus melahirkan sifat “Ihsan” (merasa selalu diawasi Allah) yang kemudian mewujud dalam perilaku jujur dan amanah di ruang publik. Bagi kader Muhammadiyah, menahan lapar berarti merasakan penderitaan kaum dhuafa. Oleh karena itu, Ramadhan selalu diiringi dengan penguatan gerakan filantropi melalui Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu). Ramadhan adalah bulan di mana “tangan di atas” harus lebih aktif daripada bulan-bulan lainnya.
3. Tata Cara Ibadah: Kembali kepada Tuntunan Manhaj Tarjih
Dalam hal teknis peribadatan, Muhammadiyah sangat ketat mengikuti Manhaj Tarjih, yakni upaya untuk mencari dalil yang paling kuat (rajih) dari Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih. Beberapa poin penting dalam ibadah Ramadhan menurut Muhammadiyah meliputi:
- Shalat Tarawih: Muhammadiyah secara konsisten melaksanakan shalat tarawih dengan format 11 rakaat (8 rakaat shalat malam dan 3 rakaat witir). Format ini dipilih berdasarkan hadits dari Aisyah R.A. mengenai kebiasaan Rasulullah SAW. Pola rakaat yang dilakukan adalah 4-4-3 atau 2-2-2-2-3, dilakukan dengan thuma’ninah (tenang) dan tidak terburu-buru.
- Niat Puasa: Muhammadiyah memahami niat sebagai kehendak hati untuk beribadah karena Allah. Oleh karena itu, tidak ada keharusan untuk melafalkan niat (talafuz) secara lisan secara berjamaah setiap malam setelah tarawih, karena niat sudah dianggap sah saat seseorang makan sahur dengan tujuan untuk berpuasa.
- Makan Sahur: Sangat dianjurkan untuk mengakhirkan waktu sahur mendekati waktu fajar (subuh) sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi dan memberikan kekuatan maksimal bagi tubuh selama berpuasa.
4. Ramadhan sebagai Bulan Literasi dan Ilmu
Sejalan dengan jati dirinya sebagai gerakan tajdid (pembaruan) dan pendidikan, Muhammadiyah menjadikan Ramadhan sebagai bulan literasi. Masjid-masjid Muhammadiyah umumnya tidak hanya diisi dengan tadarus Al-Quran secara lisan, tetapi juga kajian tafsir dan bedah buku.
Program “Pengajian Ramadhan” yang diadakan dari tingkat pusat hingga ranting merupakan agenda wajib. Di sini, umat diajak untuk memahami makna Al-Quran secara kontekstual agar bisa menjawab tantangan zaman, seperti isu lingkungan hidup, kedaulatan ekonomi, hingga etika digital. Bagi Muhammadiyah, membaca Al-Quran tanpa memahami maknanya dianggap belum mencapai tujuan diturunkannya kitab suci tersebut sebagai petunjuk (hudan).
5. Optimalisasi Masjid: Ramadhan yang Inklusif dan Bersih
Muhammadiyah mendorong agar masjid-masjid selama bulan Ramadhan menjadi pusat kebudayaan dan pemberdayaan. Konsep “Masjid Ramah” dikedepankan, di mana masjid harus inklusif bagi anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas.
Selain itu, ada penekanan pada aspek sanitasi dan kesehatan. Kader kesehatan Muhammadiyah seringkali dilibatkan untuk memastikan bahwa takjil yang disediakan di masjid sehat, bergizi, dan bebas dari bahan berbahaya. Ramadhan dipandang sebagai momentum untuk mendisiplinkan pola hidup sehat, bukan justru menjadi bulan pemborosan makanan atau konsumsi gula berlebih.
6. Etika Perbedaan: Tasamuh dalam Penentuan Idul Fitri
Karena seringkali terjadi perbedaan awal atau akhir Ramadhan akibat perbedaan metode (hisab vs rukyat), Muhammadiyah secara resmi selalu mengedepankan sikap tasamuh atau toleransi. Muhammadiyah menghormati pilihan pihak lain yang menggunakan metode berbeda dan meminta warganya untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.
Bagi Muhammadiyah, perbedaan adalah keniscayaan dalam ijtihad. Keyakinan pada hasil hisab tidak boleh membuat seseorang merasa lebih benar secara arogan, namun tetap teguh menjalankan apa yang telah ditetapkan secara organisasi. Kerukunan umat tetap menjadi prioritas utama di atas perbedaan tanggal kalender.
7. Dakwah Digital dan Ramadhan di Era Baru
Memasuki era digital, Muhammadiyah mengadaptasi dakwah Ramadhannya melalui berbagai kanal multimedia. Ceramah singkat, infografis tuntunan ibadah menurut Tarjih, hingga layanan zakat digital menjadi sarana untuk menjangkau generasi muda (Gen Z dan Milenial). Muhammadiyah menyadari bahwa nilai-nilai Islam berkemajuan harus dikemas secara menarik agar tetap relevan di tengah arus informasi yang sangat cepat.
Ramadhan bagi Muhammadiyah adalah saat di mana teknologi digunakan sebagai alat untuk mempermudah ibadah, bukan sebagai distraksi. Media sosial digunakan untuk menyebarkan pesan perdamaian, moderasi beragama, dan optimisme.
8. Menyongsong Lailatul Qadar: Kesungguhan di Sepuluh Hari Terakhir
Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, Muhammadiyah mendorong warganya untuk meningkatkan intensitas ibadah melalui i’tikaf. I’tikaf dalam pandangan Muhammadiyah tidak hanya berarti berdiam diri di masjid, tetapi juga melakukan refleksi mendalam (muhasabah) atas kontribusi yang telah diberikan kepada masyarakat dan persyarikatan.
Lailatul Qadar dipahami sebagai malam kemuliaan yang harus dicapai dengan konsistensi ibadah sejak awal bulan, bukan sekadar berburu satu malam secara instan. Kesungguhan di akhir Ramadhan adalah ujian apakah nilai-nilai puasa telah mendarah daging dalam diri seorang mukmin.
Ramadhan menurut Muhammadiyah adalah sebuah sistem pelatihan komprehensif yang melibatkan akal dan hati. Dengan landasan ilmu pengetahuan melalui metode hisab, ketelitian ibadah melalui Manhaj Tarjih, dan pengabdian sosial melalui Lazismu, Muhammadiyah berupaya mewujudkan puasa yang berkualitas. Goal akhir dari Ramadhan dalam perspektif ini adalah terbentuknya sosok “Muttaqin” yang progresif—seseorang yang bertakwa kepada Allah, namun juga cerdas secara intelektual dan bermanfaat secara nyata bagi kemanusiaan.
Puasa bagi Muhammadiyah adalah perwujudan dari Islam Berkemajuan: sebuah agama yang mencerahkan, menggembirakan, dan membawa rahmat bagi semesta alam.
