Keajaiban di Carlos Belmonte: Albacete Singkirkan Real Madrid dari Copa del Rey

Stadion Carlos Belmonte menjadi saksi bisu salah satu kejutan terbesar dalam sejarah modern Copa del Rey. Pada pertengahan Januari 2026, klub kasta kedua Spanyol, Albacete Balompie, berhasil menumbangkan raksasa dunia, Real Madrid, dengan skor tipis 3-2. Kekalahan ini tidak hanya menghentikan langkah Los Blancos di babak 16 besar, tetapi juga memberikan sambutan pahit bagi Alvaro Arbeloa dalam laga debutnya sebagai pelatih kepala.
Awal Era Arbeloa yang Kelabu
Pertandingan ini merupakan momen yang sangat dinantikan oleh pendukung Real Madrid. Setelah perpisahan mendadak dengan pelatih sebelumnya, manajemen Madrid menunjuk mantan bek legendaris mereka, Alvaro Arbeloa, untuk memimpin tim. Namun, ekspektasi akan adanya efek instan sirna di bawah kabut yang menyelimuti markas Albacete.
Arbeloa menurunkan kombinasi pemain muda dan bintang senior. Nama-nama seperti Vinicius Junior, Federico Valverde, dan Arda Guler tampil sejak menit awal bersama talenta muda seperti Franco Mastantuono dan Gonzalo Garcia. Meski mendominasi penguasaan bola sejak peluit pertama dibunyikan, Madrid tampak kesulitan menembus pertahanan berlapis yang digalang oleh anak asuh Alberto Gonzalez.
Babak Pertama: Drama Gol di Menit Akhir
Sepanjang 30 menit pertama, Real Madrid mencoba membongkar pertahanan tuan rumah melalui sayap yang dihuni Vinicius Jr. Beberapa peluang tercipta melalui sepakan jarak jauh Valverde, namun kiper Albacete, Raul Lizoain, tampil gemilang di bawah mistar.
Petaka bagi Madrid datang di menit ke-42. Melalui skema sepak pojok, Javi Villar berhasil melompat lebih tinggi dari pemain bertahan Madrid dan menyundul bola ke sudut gawang yang tidak mampu dijangkau oleh Andriy Lunin. Skor 1-0 untuk keunggulan tim divisi dua tersebut membuat seisi stadion bergemuruh.
Tersentak oleh gol tersebut, Madrid langsung menaikkan intensitas serangan. Di masa injury time babak pertama, kemelut terjadi di mulut gawang Albacete setelah tendangan sudut Arda Guler. Bola muntah hasil sundulan Dean Huijsen jatuh tepat di kaki Franco Mastantuono. Pemain muda asal Argentina itu tidak menyia-nyiakan peluang dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1 sebelum turun minum.
Babak Kedua: Kegigihan Albacete dan Brace Jefte Betancor
Memasuki babak kedua, Real Madrid memasukkan beberapa pemain senior untuk menstabilkan pertahanan. Namun, Albacete justru semakin berani melakukan serangan balik cepat. Kecepatan pemain-pemain Albacete berkali-kali merepotkan lini belakang Madrid yang tampak kurang koordinasi.
Pada menit ke-82, Carlos Belmonte kembali meledak. Jefte Betancor, yang masuk sebagai pemain pengganti, berhasil memanfaatkan sapuan bola yang tidak sempurna dari lini belakang Madrid. Dengan penyelesaian akhir yang tenang, ia menaklukkan Lunin untuk membawa Albacete unggul 2-1.
Real Madrid, dengan mentalitas juara mereka, menolak menyerah. Di menit ke-90+1, Gonzalo Garcia menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui sundulan maut memanfaatkan umpan silang akurat Arda Guler. Saat semua orang mengira pertandingan akan berlanjut ke babak tambahan waktu, sebuah drama puncak terjadi.
Di menit ke-90+4, Albacete melancarkan serangan balik terakhir. Jefte Betancor lolos dari jebakan offside, menggiring bola masuk ke kotak penalti, dan melepaskan tembakan melengkung ke tiang jauh. Bola bersarang di pojok gawang, memastikan kemenangan 3-2 bagi Albacete. Wasit meniup peluit panjang sesaat setelah gol tersebut, mengukuhkan tersingkirnya Real Madrid.
Analisis Pertandingan dan Reaksi Pasca-Laga
Madrid sebenarnya unggul jauh dalam statistik penguasaan bola dan jumlah tembakan. Namun, efektivitas serangan balik Albacete menjadi pembeda utama. Lini pertahanan Madrid yang dipimpin oleh pemain muda terlihat rapuh saat menghadapi tekanan fisik dari penyerang tuan rumah.
Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Alvaro Arbeloa tidak mencari alasan. Ia menyatakan bahwa di klub sebesar Real Madrid, kekalahan adalah sebuah tragedi, apalagi dari tim di kategori yang lebih rendah. Ia mengaku bertanggung jawab penuh atas hasil tersebut dan mencatat bahwa transisi kepelatihan dalam waktu singkat memang sulit, namun tim harus segera bangkit untuk fokus pada kompetisi lain.
Di sisi lain, kemenangan ini membawa Albacete melaju ke babak perempat final. Bagi pendukung Albacete, ini adalah malam bersejarah yang akan dikenang sebagai pencapaian luar biasa klub di kancah nasional.
Kekalahan ini membuat Real Madrid kini harus memusatkan seluruh energi mereka pada sisa kompetisi di liga domestik dan kancah Eropa. Tekanan kini berada di pundak Arbeloa untuk membuktikan bahwa dirinya layak menakhodai kapal besar Madrid setelah awal yang mengecewakan di ajang piala liga.
