Bincang Buku Catatan Belle di Purwokerto: Dua Wajah Dunia Tuli yang Bikin Kita Tertampar

Bincang buku “Catatan Belle: Dunia Tuli dan Aku” karya Aulia Nabila Fal digelar di Gramedia Rita Super Mall Purwokerto pada Rabu, 4 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu Pekan Literasi Masyarakat Banyumas yang menyoroti isu inklusivitas, sekaligus menandai pentingnya ruang diskusi yang setara bagi semua kelompok pembaca. Buku tersebut diketahui merupakan salah satu penerima penghargaan Ahmad Tohari Awards 2025 pada event Banyumas International Literacy Festival.
Dalam forum tersebut, pembahasan tidak hanya berfokus pada isi buku, tetapi juga pada konteks sosial yang melatarbelakanginya. “Catatan Belle” diposisikan sebagai karya yang memperlihatkan pengalaman hidup orang Tuli secara lebih terbuka, termasuk persoalan stigma, diskriminasi, dan tantangan sehari-hari yang kerap luput dari perhatian masyarakat luas.
Menariknya, buku ini disebut memiliki dua lapis pembacaan, tergantung dari siapa yang membaca. Pada pembacaan pertama, yakni dari perspektif dunia dengar, “Catatan Belle” terbaca sebagai narasi pengalaman orang Tuli dalam menghadapi berbagai hambatan sosial. Buku ini memuat cerita tentang bagaimana penulis bertahan, bernegosiasi dengan lingkungan, serta membangun identitas diri di tengah situasi yang tidak selalu ramah.
Pembacaan tersebut memperlihatkan bahwa banyak hal yang selama ini dianggap wajar oleh masyarakat, justru bisa menjadi bentuk ketidakadilan bagi orang Tuli. Forum bincang buku turut menyinggung bagaimana cara komunikasi, perlakuan, hingga stereotip yang melekat pada komunitas Tuli sering kali menjadi faktor yang mempersempit akses mereka dalam kehidupan publik, termasuk di ruang pendidikan dan budaya.
Sementara itu, pembacaan kedua muncul dari perspektif dunia Tuli. Dalam konteks ini, “Catatan Belle” dipahami sebagai teks yang lebih spesifik: semacam pengukuhan atas pilihan keyakinan penulis, yang dianggap berhadapan dengan keyakinan sebagian kelompok di komunitas Tuli. Hal ini membuat buku tersebut tidak hanya dibaca sebagai catatan pengalaman sosial, tetapi juga sebagai narasi spiritual dan identitas.
Sejumlah peserta diskusi menilai, buku ini dapat menjadi rujukan emosional bagi orang Tuli yang sedang mengalami pergulatan serupa, terutama terkait keberanian menentukan jalan hidup dan keyakinan. Karena itu, “Catatan Belle” dipandang memiliki posisi penting, bukan hanya sebagai karya literasi, tetapi juga sebagai ruang representasi bagi pengalaman yang jarang terdengar di ruang publik.
Mengikuti bincang buku “Catatan Belle: Dunia Tuli dan Aku” membuka pemahaman baru tentang hal-hal yang sebelumnya tidak banyak diketahui, apalagi dipahami. Diskusi ini memperlihatkan bahwa literasi inklusif tidak berhenti pada akses membaca, tetapi juga menuntut kesediaan untuk mendengar pengalaman yang berbeda. Dalam konteks itu, bincang buku ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan adalah langkah awal, sementara pemahaman membutuhkan keterlibatan yang lebih dalam.
