Kemarau di Banyumas Picu Krisis Air Bersih Dan Karhutla, Ribuan Warga Terdampak

Banyumas – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Banyumas mulai menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat. Selain menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah, kondisi cuaca yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga Selasa (4/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat puluhan desa dan kelurahan telah terdampak kekeringan, sementara beberapa titik karhutla juga terjadi di berbagai kecamatan.
Berdasarkan data BPBD Banyumas, sebanyak 30 desa dan kelurahan yang tersebar di 13 kecamatan mengalami kekeringan akibat minimnya curah hujan selama musim kemarau. Kondisi tersebut berdampak pada 6.883 kepala keluarga (KK) atau sekitar 22.222 jiwa, serta memengaruhi tujuh fasilitas umum yang turut mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kondisi di lapangan agar kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi. Menurutnya, penanganan kekeringan menjadi salah satu prioritas selama musim kemarau karena jumlah warga terdampak terus bertambah di beberapa wilayah.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih, BPBD Banyumas bersama sejumlah instansi, pemerintah daerah, relawan, serta berbagai pihak terkait terus melakukan pendistribusian bantuan ke daerah yang mengalami kekeringan. Hingga saat ini, telah dilakukan 165 kali pengiriman air bersih dengan total distribusi mencapai 798.000 liter.
Distribusi tersebut dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah. BPBD memastikan bantuan air bersih akan terus disalurkan selama masyarakat masih mengalami kesulitan memperoleh air. Selain itu, warga juga diimbau agar menggunakan air secara bijak agar persediaan yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal selama musim kemarau berlangsung.
Masyarakat yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih juga diminta segera melapor kepada pemerintah desa maupun BPBD setempat. Langkah tersebut dilakukan agar bantuan dapat segera disalurkan sesuai kondisi di lapangan dan kebutuhan warga dapat terpenuhi secepat mungkin.

Selain memicu kekeringan, musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Banyumas. Hingga awal Agustus 2026, BPBD mencatat sedikitnya lima kejadian karhutla yang menghanguskan lahan seluas sekitar 9,3 hektare.
Kebakaran tersebut terjadi di beberapa lokasi, di antaranya Kelurahan Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara dengan luas lahan terbakar sekitar 0,3 hektare, Desa Pajerukan, Kecamatan Sokaraja seluas 2 hektare, Desa Karangtalun Kidul, Kecamatan Purwojati sekitar 1 hektare, Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan seluas 2 hektare, serta Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang yang menjadi lokasi dengan area terbakar paling luas, yakni sekitar 4 hektare.
Melihat meningkatnya kejadian tersebut, BPBD Banyumas mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati selama musim kemarau. Warga diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api di area yang dipenuhi vegetasi kering.
Menurut BPBD, kondisi rumput, semak, dan dedaunan yang mengering akibat minimnya hujan membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi percikan kecil. Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas.
BPBD Banyumas juga terus menjalin koordinasi dengan pemerintah desa, instansi terkait, dunia usaha, serta berbagai lembaga kemanusiaan untuk memperkuat upaya penanganan dampak musim kemarau. Kerja sama tersebut dilakukan agar distribusi air bersih tetap berjalan lancar sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk tetap menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan dampak kekeringan maupun karhutla di Banyumas dapat diminimalkan sehingga aktivitas warga tetap berjalan dengan baik.
