Sekolah Nasional Terintegrasi: Solusinya Sekolah Baru atau Kepercayaan Baru?

Pemerintah berencana menghadirkan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) sebagai model pendidikan yang menggabungkan jenjang sekolah dalam satu sistem agar proses belajar lebih berkesinambungan dan berkualitas.
Tujuannya tentu baik. Namun, ada satu pertanyaan yang layak diajukan.
Apakah yang kurang di Indonesia adalah model sekolahnya, atau dukungan terhadap sekolah yang sudah ada?
Hari ini hampir setiap kecamatan bahkan desa sudah memiliki sekolah. Banyak di antaranya memiliki guru yang berdedikasi dan murid yang berprestasi.
Yang masih menjadi persoalan justru hal-hal mendasar.
- Masih ada ruang kelas yang rusak.
- Perpustakaan belum menjadi pusat belajar.
- Laboratorium belum memadai.
- Guru belum mendapatkan pelatihan yang merata.
- Fasilitas digital masih timpang.
- Kualitas pendidikan sangat bergantung pada lokasi sekolah.
Kalau persoalan utamanya masih itu, muncul pertanyaan sederhana. Apakah membangun sekolah baru otomatis menyelesaikan masalah yang sudah lama ada? Bayangkan sebuah kota memiliki sepuluh jembatan.
Sembilan jembatan mulai rapuh dan membutuhkan perbaikan. Lalu pemerintah membangun satu jembatan baru yang sangat modern. Jembatan baru itu tentu membanggakan. Tetapi masyarakat tetap lebih sering melewati sembilan jembatan lama.
Begitu pula dengan pendidikan. Sebagian besar anak Indonesia tidak akan belajar di Sekolah Nasional Terintegrasi. Mereka tetap belajar di SD, SMP, dan SMA yang selama ini telah berdiri. Artinya, masa depan pendidikan Indonesia tetap sangat bergantung pada kualitas sekolah-sekolah yang sudah ada.
Jika sekolah lama tidak ikut diperkuat, maka sekolah baru hanya akan menjadi contoh keberhasilan di tengah sistem yang belum merata. Sekolah Nasional Terintegrasi bisa menjadi laboratorium inovasi, tetapi inovasi akan jauh lebih bermakna jika hasilnya diterapkan ke seluruh sekolah di Indonesia.
Mungkin ukuran keberhasilan bukanlah berapa banyak Sekolah Nasional Terintegrasi yang dibangun. Melainkan berapa banyak sekolah yang sudah ada ikut menjadi lebih baik karena kehadiran program tersebut. Sebab pendidikan yang maju tidak diukur dari banyaknya sekolah dengan nama baru. Pendidikan yang maju adalah ketika anak di sekolah mana pun—baik di kota maupun di desa—memiliki kesempatan belajar dengan kualitas yang sama. Karena yang sesungguhnya perlu diintegrasikan bukan hanya jenjang sekolah.
Yang lebih penting adalah mengintegrasikan kualitas pendidikan agar tidak ada sekolah yang tertinggal.
