Perang Hibrida: Ancaman Terbesar Justru Datang Saat Kita Merasa Aman

Kita terbiasa membayangkan perang sebagai dentuman bom, deru pesawat tempur, atau pasukan yang bergerak di garis depan. Padahal, bentuk konflik yang kini berkembang justru tidak selalu meninggalkan jejak yang kasat mata. Tidak ada deklarasi perang, tidak ada batas wilayah yang jelas, tetapi dampaknya bisa merusak ekonomi, memecah masyarakat, mengacaukan informasi, hingga melemahkan kepercayaan terhadap negara.
Gagasan itulah yang menjadi benang merah dalam buku Perang Tanpa Deklarasi: Doktrin Hibrida dan Pertahanan Indonesia di Era Konflik US–Israel vs Iran karya Mayor Laut (P) Marjudin Saputra S.S.Than., M.A.S.S. yang diterbitkan oleh Omera Pustaka. Buku ini lahir dari pengalaman lapangan penulis yang menyaksikan langsung dinamika konflik di Timur Tengah dari Amman, Yordania. Karena ditulis di tengah berlangsungnya eskalasi konflik, analisis yang disajikan tidak berhenti pada teori, tetapi berangkat dari pengamatan terhadap realitas yang sedang terjadi.
Yang menarik, buku ini tidak memosisikan perang hibrida sebagai isu eksklusif militer. Justru sebaliknya, perang hibrida dipaparkan sebagai strategi yang menyasar seluruh sendi kehidupan: ruang digital, ekonomi, politik, budaya, hingga psikologi masyarakat. Dalam perang seperti ini, masyarakat sipil bisa menjadi sasaran sekaligus medan tempur.

Banyak orang merasa urusan pertahanan adalah tanggung jawab tentara dan pemerintah. Namun, perang hibrida menghapus batas tersebut. Ketika disinformasi membanjiri media sosial, ketika tekanan ekonomi digunakan sebagai alat politik, atau ketika konflik identitas sengaja dipelihara untuk memecah masyarakat, setiap warga negara sesungguhnya telah berada di dalam arena yang sama.
Di sinilah buku karya Mayor Laut (P) Marjudin Saputra S.S.Than., M.A.S.S membangun hubungan yang kuat dengan kondisi Indonesia. Posisi geografis yang strategis, kekayaan sumber daya, serta peran Indonesia dalam percaturan internasional membuat negeri ini tidak berada di luar pusaran kompetisi global. Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk invasi, tetapi dapat hadir melalui manipulasi opini publik, serangan siber, tekanan ekonomi, maupun eksploitasi perbedaan sosial.
Buku ini juga mengangkat pelajaran dari Iran. Kekuatan yang dibangun negara tersebut tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses panjang selama puluhan tahun. Bukan untuk memuji satu negara tertentu, melainkan menunjukkan bahwa kesiapan strategis selalu dibentuk jauh sebelum krisis benar-benar datang.
Ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer. Ketahanan juga lahir dari masyarakat yang mampu berpikir kritis, tidak mudah terprovokasi informasi palsu, memiliki ekonomi yang tangguh, institusi yang bersih, serta budaya yang kuat menghadapi tekanan dari luar.
Karena itu, buku ini layak dibaca bukan hanya oleh kalangan pertahanan atau akademisi, tetapi juga oleh siapa pun yang menggunakan internet, mengikuti berita, dan ikut membentuk opini publik setiap hari. Di era perang hibrida, kesadaran masyarakat menjadi garis pertahanan pertama sebuah bangsa.
Pada akhirnya, Perang Tanpa Deklarasi mengingatkan bahwa perang modern sering kali dimenangkan bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan. Bangsa yang mampu mengenali ancaman sejak dini, membangun ketahanan secara kolektif, dan tidak menunggu krisis datang adalah bangsa yang memiliki peluang terbesar untuk tetap berdiri tegak di tengah persaingan global yang semakin kompleks.
