Budaya

Teater Gethek Hadirkan Pertunjukan “Berita Lelayu” di UNSOED

Teater Gethek akan menggelar pertunjukan teater bertajuk “Berita Lelayu” di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Pertunjukan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 23 September 2026, pukul 18.30 WIB. Kegiatan ini menjadi salah satu pertunjukan seni yang mengangkat persoalan kehidupan, kematian, serta berbagai realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

“Berita Lelayu” menghadirkan cerita dengan pendekatan absurd yang memadukan sejumlah unsur, mulai dari dongeng kelam, satir politik, memori cinta, hingga gambaran mengenai kehidupan masyarakat kecil. Melalui perpaduan tersebut, Teater Gethek berusaha menyajikan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali berbagai persoalan yang ada di lingkungan sosial.

Cerita dalam pertunjukan ini berangkat dari pertanyaan mengenai kematian dan apa yang mungkin terjadi setelah seseorang meninggal dunia. Dalam alur ceritanya, tokoh utama digambarkan tersadar bahwa dirinya telah meninggal dan berada di alam barzakh. Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi perjalanan yang penuh dengan kejadian absurd dan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Salah satu persoalan yang diangkat adalah mengenai utang. Tokoh dalam cerita digambarkan menghadapi situasi ketika persoalan pinjaman masih ditagihkan oleh orang-orang yang datang sebagai pelayat. Keadaan tersebut menjadi bagian dari gambaran ironis mengenai bagaimana persoalan duniawi dapat terus membayangi kehidupan seseorang bahkan ketika kematian telah datang.

Selain persoalan individu, “Berita Lelayu” juga membawa isu mengenai keadaan sosial dan politik. Pertunjukan menggambarkan sebuah negeri yang semakin ramai dengan berbagai kepentingan dan perselisihan. Kondisi tersebut disampaikan melalui gaya satir sehingga persoalan serius dapat dikemas dengan cara yang lebih ringan, tetapi tetap memberikan ruang bagi penonton untuk melakukan refleksi.

Melalui pendekatan absurditas, Teater Gethek mempertanyakan batas antara kewarasan dan kegilaan. Pertanyaan mengenai apakah seseorang yang dianggap gila justru dapat menjadi pihak yang paling waras ketika berada di tengah lingkungan yang penuh konflik menjadi salah satu gagasan yang ditawarkan dalam pertunjukan. Kritik tersebut disampaikan melalui perpaduan cerita, humor, dan situasi yang tidak biasa.

Pertunjukan “Berita Lelayu” juga menjadi ruang bagi Teater Gethek untuk menggambarkan suara masyarakat kecil yang sering kali tidak mendapatkan perhatian. Persoalan kehidupan sehari-hari, ketimpangan, kepentingan politik, hingga keresahan masyarakat disatukan dalam sebuah cerita yang menggunakan kematian sebagai pintu masuk untuk melihat kembali kehidupan.

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan tersebut, Teater Gethek membuka pemesanan tiket dalam beberapa pilihan. Pada periode pertama pemesanan yang berlangsung Selasa, 1 September hingga Senin, 7 September 2026, satu tiket atau “gethek” dibanderol dengan harga Rp15.000. Penonton juga dapat memilih paket bundling dua tiket dengan harga Rp28.000 atau tiga tiket seharga Rp40.000.

Pemesanan tiket dilakukan secara daring melalui formulir yang telah disediakan oleh pihak Teater Gethek. Informasi mengenai kegiatan dan pemesanan tiket juga dapat diperoleh melalui narahubung Tegar pada nomor +62 856-4055-0941.

Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung dalam rangkaian kegiatan pada Selasa hingga Rabu, 22–23 September 2026, dengan salah satu agenda pertunjukan utama pada Rabu malam. Aula FISIP UNSOED dipilih sebagai lokasi pelaksanaan untuk mempertemukan pertunjukan teater dengan masyarakat dan mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap seni serta isu sosial.

Melalui “Berita Lelayu”, Teater Gethek mengajak penonton untuk tidak hanya menikmati pertunjukan sebagai hiburan, tetapi juga memikirkan kembali hubungan antara kehidupan, kematian, dan kondisi masyarakat. Dengan membawa cerita yang memadukan humor, kritik sosial, dan absurditas, pertunjukan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman sekaligus ruang refleksi bagi para penontonnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *