Bayu Skak Gelar Audisi Film Landasan di Purwokerto

Film Landasan menarik perhatian publik bukan hanya karena nama besar Bayu Skak, tetapi juga karena genre unik yang diusungnya. Film ini direncanakan menjadi sebuah karya drama komedi yang dibumbui dengan unsur thriller, sebuah eksperimen baru bagi Bayu yang selama ini sangat kental dengan genre komedi murni dan romansa kedaerahan. Latar belakang cerita Landasan sendiri sangat organik dan dekat dengan realitas sosial masyarakat saat ini, yakni berkisar pada isu pembangunan bandara di suatu daerah. Narasi film ini mengeksplorasi dinamika warga desa yang bereaksi terhadap proyek besar tersebut, mulai dari kegembiraan mendapatkan ganti rugi atau ganti untung lahan, hingga konflik-konflik tersembunyi yang muncul di tengah perubahan drastis lingkungan mereka.
Keputusan Bayu Skak untuk menetapkan Banyumas sebagai lokasi syuting utama didasarkan pada riset yang cukup mendalam, termasuk keterlibatan aktif para pengikutnya di media sosial melalui proses voting. Kabupaten Banyumas dinilai memiliki keunikan dialek atau bahasa Jawa Ngapak yang sangat autentik dan memiliki daya tarik komedi yang kuat. Selain itu, keindahan alam Purwokerto dan sekitarnya, seperti kawasan Baturraden, menjadi daya tarik visual yang akan memperkaya estetika film ini. Bayu menegaskan bahwa Landasan bukan sekadar film yang syuting di daerah, melainkan film yang benar-benar bernapas dengan jiwa masyarakat setempat.
Salah satu bukti keseriusan Bayu Skak dalam melibatkan warga lokal adalah dengan digelarnya open casting besar-besaran di Menara Teratai Purwokerto pada akhir Januari 2026. Ribuan warga dari berbagai latar belakang usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, menyerbu lokasi audisi untuk mendapatkan peran dalam proyek ini. Bayu menargetkan sekitar 80 persen dari jajaran pemain film Landasan akan diisi oleh talenta lokal asal Banyumas dan sekitarnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian dialek Ngapak yang sulit ditiru oleh aktor dari luar daerah tanpa bimbingan intensif. Melalui pendekatan ini, Bayu ingin memberikan ruang bagi masyarakat daerah untuk mengenal lebih dekat industri kreatif sekaligus mempromosikan potensi lokal ke tingkat nasional.
Pemerintah Kabupaten Banyumas pun memberikan dukungan penuh terhadap produksi film ini. Bupati Banyumas secara terbuka menyambut tim Skak Studios dan berharap bahwa film Landasan dapat menjadi media promosi yang efektif bagi pariwisata dan kebudayaan daerah. Bahkan, ada rencana untuk menyisipkan beberapa momentum penting, seperti perayaan hari jadi Banyumas, ke dalam alur cerita film untuk memperkuat nuansa dokumentatif dan kemegahan latar. Koordinasi yang erat antara tim produksi dengan pemerintah setempat menunjukkan adanya sinergi yang positif antara industri kreatif dengan pemangku kebijakan daerah.
Dari sisi produksi, Landasan akan menampilkan kualitas visual yang lebih matang dengan keterlibatan kru profesional yang sudah malang melintang di industri perfilman. Nama aktris Erika Carlina juga santer dikabarkan ikut terlibat sebagai salah satu pemeran utama, yang memberikan jaminan daya tarik bagi penonton muda. Bayu Skak sendiri, seperti dalam film-film sebelumnya, kemungkinan besar akan kembali duduk di kursi sutradara sekaligus ikut berperan di depan layar untuk memastikan ritme komedi dan pesan cerita tersampaikan dengan tepat sesuai visinya.
Proyek Landasan juga menjadi bagian dari ambisi besar Skak Studios untuk memproduksi serangkaian film berbahasa daerah lainnya pada tahun 2026, seperti FOuFO dan Expedisi. Langkah konsisten Bayu dalam mempertahankan penggunaan bahasa daerah merupakan bentuk perlawanan terhadap stigmatisasi bahwa bahasa lokal adalah kampungan. Baginya, bahasa daerah adalah aset kekayaan intelektual yang harus dirayakan dan dilestarikan melalui media populer seperti film. Keberhasilan film-film Bayu sebelumnya, seperti seri Yo Wis Ben dan Sekawan Limo, menjadi bukti kuat bahwa konten lokal memiliki pasar yang sangat luas jika dikemas secara profesional dan memiliki kedekatan emosional dengan penonton.
Antusiasme masyarakat terhadap film Landasan terlihat dari perbincangan yang terus berlanjut di platform digital. Banyak yang tidak sabar melihat bagaimana dialek Ngapak yang dikenal lugas dan lucu diolah menjadi sebuah cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ketegangan melalui unsur thriller yang dijanjikan. Proses syuting yang dimulai usai Lebaran 2026 ini diharapkan berjalan lancar dan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar lokasi pengambilan gambar melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan penggunaan fasilitas UMKM setempat.
Secara keseluruhan, Landasan bukan hanya sekadar judul film baru, melainkan simbol keberanian seorang sineas muda dalam memperjuangkan identitas kedaerahan di tengah gempuran budaya global. Bayu Skak sekali lagi membuktikan bahwa inspirasi terbaik seringkali datang dari hal-hal paling sederhana di sekitar kita, seperti obrolan di warung kopi atau reaksi warga terhadap pembangunan infrastruktur. Dengan standar produksi yang semakin tinggi, film Landasan diprediksi akan menjadi salah satu hits box office Indonesia pada saat perilisannya nanti, sekaligus mengukuhkan posisi Bayu Skak sebagai pelopor sinema lokal modern yang berintegritas.
