Kabut Asap Karhutla Selimuti Banjarbaru Bagaikan Film Horor

JAKARTA — Kabar mengenai pekatnya kabut asap yang diakibatkan oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menghantui dan menyelimuti kehidupan sehari-hari warga yang tinggal di wilayah Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan.
Situasi dan kondisi lingkungan yang memprihatinkan ini telah berlangsung selama berbulan-bulan lamanya. Para warga setempat terpaksa harus menjalani berbagai macam aktivitas rutin sehari-hari di tengah kepungan udara bebas yang dipenuhi oleh polusi asap tebal.
Bagi seorang warga lokal bernama Intan yang berusia 18 tahun dan bertempat tinggal di Banjarbaru, kondisi udara yang diselimuti kabut asap pekat tersebut terasa bagaikan sedang berada di dalam sebuah film horor berjudul Silent Hill.
Suasana mencekam tersebut mengingatkannya pada sebuah film yang pernah ditontonnya dahulu, yang menggambarkan sebuah kawasan kota terisolasi yang tertutup oleh gulungan kabut tebal.Selama kurang lebih empat bulan terakhir, suasana mencekam yang serupa tersebut dirasakan secara terus-menerus oleh Intan di kawasan tempat tinggalnya yang berada di wilayah Landasan Ulin.
Bahkan, pada saat peristiwa turunnya hujan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, hal tersebut sempat membuat dirinya menaruh harapan besar bahwa kabut asap pekat itu akan segera menghilang dari wilayah tempat tinggalnya.Namun, harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Intan menceritakan pengalamannya secara langsung ketika diwawancarai oleh pihak kompas, yang bertempat di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada hari Sabtu, tanggal 25 Oktober 2026.D
alam keterangannya kepada Kompas , Intan mengungkapkan keluh kesahnya sebagai berikut:”Kemarin pernah kan sekali hujan, dikira sudah bakal hilang (asap). Malah kayak di film-film Silent Hill gitu,” Kondisi lingkungan di wilayah tersebut semakin memperlihatkan situasi yang mengkhawatirkan karena intensitas kepekatan asap cenderung meningkat drastis setelah matahari terbenam.
Alih-alih mereda atau menghilang pada saat malam hari menjelang, kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan tersebut justru semakin terasa pekat dan menyesakkan setelah matahari terbenam.
