Dari Sampah Menjadi Penghasilan, Warga Alasmalang Olah Kulit Durian untuk Cegah Banjir

BANYUMAS — Upaya warga Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dalam mengolah limbah kulit durian menjadi produk bernilai ekonomi menjadi perhatian pada Kamis (20/8/2026). Inovasi tersebut muncul dari persoalan melimpahnya limbah kulit durian yang dihasilkan selama musim panen. Alih-alih membiarkannya menumpuk dan mengganggu lingkungan, masyarakat mulai mengolah limbah tersebut menjadi berbagai produk yang dapat dimanfaatkan sekaligus memberikan peluang tambahan penghasilan.
Desa Alasmalang dikenal memiliki potensi durian yang cukup besar. Tingginya produksi dan konsumsi durian membuat kulit buah tersebut menjadi salah satu jenis limbah yang banyak ditemukan di lingkungan masyarakat. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah kulit durian dapat menumpuk, menimbulkan bau tidak sedap, dan mengganggu kebersihan.
Jumlah limbah yang dihasilkan juga tidak sedikit. Dalam kajian mengenai pengelolaan limbah di Desa Alasmalang, limbah kulit durian diperkirakan dapat mencapai sekitar 26 ton dalam satu musim panen. Besarnya jumlah tersebut membuat pengelolaan limbah menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian, terutama ketika aktivitas masyarakat meningkat selama musim durian.
Masyarakat kemudian berusaha mengubah persoalan tersebut menjadi peluang. Melalui kegiatan pemberdayaan dan pendampingan, kulit durian mulai diproses menjadi bahan yang dapat digunakan kembali. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah mengolah kulit durian menjadi serat.
Serat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan isian berbagai produk kerajinan, seperti boneka dan gantungan kunci. Kulit durian terlebih dahulu dikeringkan sebelum diolah hingga menghasilkan serat. Agar hasilnya lebih ringan dan empuk, serat kulit durian kemudian dicampurkan dengan dakron. Setelah melalui proses tersebut, bahan dapat digunakan untuk membuat suvenir dengan berbagai bentuk dan karakter.
Koordinator Local Champion Desa Alasmalang, Roniyah, menjelaskan bahwa serat kulit durian memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan isian produk. Namun, penggunaannya perlu dicampur dengan dakron agar hasil akhir tidak terlalu padat dan berat. Pemanfaatan tersebut sekaligus memberikan nilai tambah terhadap limbah yang sebelumnya hanya dibuang.
Pengolahan kulit durian tidak berhenti pada produk kerajinan. Masyarakat juga memanfaatkannya untuk kebutuhan pertanian dan lingkungan. Kulit durian dapat diproses menjadi pupuk organik yang kemudian digunakan untuk tanaman. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat kembali dimanfaatkan dalam kegiatan produktif.
Keterlibatan masyarakat terlihat melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Makmur. Kelompok tersebut mendapatkan pendampingan untuk mengolah kulit durian menjadi kompos. Langkah ini menjadi salah satu upaya mengatasi penumpukan limbah sekaligus mengurangi persoalan bau yang muncul dari kulit durian yang dibiarkan begitu saja.
Hasil pengolahan kompos juga memiliki nilai ekonomi. Produk yang telah dihasilkan dapat dipasarkan sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat. Artinya, kegiatan pengolahan limbah tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga untuk mengembangkan usaha.
Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui program Bergelimang, yaitu Berdikari Mengelola Limbah Lingkungan. Program tersebut mendapat dukungan dari kegiatan tanggung jawab sosial PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos. Melalui program ini, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai inovasi berbasis limbah yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pengolahan limbah juga dapat mendukung pengembangan Desa Wisata Alasmalang. Kegiatan tersebut berpotensi menjadi sarana edukasi bagi wisatawan mengenai bagaimana masyarakat memanfaatkan limbah durian. Pengunjung dapat mengenal proses pemanfaatan kulit durian menjadi pupuk organik hingga pakan cacing.
Bagi lingkungan, pengolahan tersebut memberikan manfaat dengan mengurangi jumlah limbah yang harus dibuang. Semakin banyak kulit durian yang dapat dimanfaatkan kembali, semakin kecil pula potensi penumpukan sampah di lingkungan. Hal ini menjadi penting bagi wilayah yang menghasilkan durian dalam jumlah besar setiap musim panen.
Sementara dari sisi ekonomi, pemanfaatan limbah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan. Warga tidak hanya berperan sebagai konsumen atau pedagang durian, tetapi juga dapat menciptakan produk baru dari sisa hasil konsumsi dan perdagangan buah tersebut.
Inovasi warga Alasmalang menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang apabila dikelola dengan kreativitas dan kerja sama. Kulit durian yang sebelumnya dianggap sebagai sampah kini memiliki fungsi baru sebagai bahan kerajinan, kompos, pupuk organik, dan berbagai produk lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan limbah di Alasmalang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan. Lebih jauh, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan untuk mendukung perekonomian masyarakat. Limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual dapat diolah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.
