Siswi SMK di Karo Trauma Usai Keracunan Makanan Program MBG

Karo – Seorang siswi SMK Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami trauma setelah menjadi salah satu korban keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengalaman tersebut membuat korban memilih untuk membawa bekal sendiri saat kembali bersekolah.
Siswi bernama Krismas Dayanti, 18 tahun, sebelumnya harus mendapatkan perawatan setelah mengalami kondisi kesehatan yang memburuk. Ia sempat mengalami sakit pada bagian perut, leher, dan kepala. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, kondisinya berangsur membaik.
Krismas kemudian dirujuk ke RS Haji Medan pada Kamis (13/8/2026) untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sebelumnya, keluarga sempat mencari keberadaannya di beberapa rumah sakit setelah mengetahui adanya kejadian keracunan yang dialami sejumlah siswa.
Kakak Krismas, Winda Apriati, menceritakan kepanikan keluarga ketika pertama kali mengetahui kejadian tersebut. Keluarga kemudian berpencar mencari Krismas ke beberapa rumah sakit hingga akhirnya menemukannya di RS Efarina.
“Aku lagi bersih-bersih rumah terus Krismas bilang ‘kak, kami keracunan MBG’. Berpencarlah sama bapak dan adik nyari si Krismas ke rumah sakit, kan ada 4 rumah sakit ya, ketemunya di RS Efarina,” kata Winda.
Saat pertama ditemukan, kondisi Krismas masih dapat berkomunikasi. Namun, kondisinya kemudian menurun karena tubuhnya kesulitan menerima makanan. Ia bahkan sempat mengalami penurunan kesadaran sebelum akhirnya dirujuk ke RS Haji Medan.
Meski kondisi fisiknya mulai pulih, pengalaman tersebut meninggalkan rasa takut terhadap makanan MBG. Trauma bahkan sempat muncul ketika Krismas melihat menu tahu di rumah sakit karena makanan tersebut mengingatkannya pada menu yang dikonsumsi saat kejadian keracunan.
Krismas menegaskan dirinya tidak ingin kembali mengonsumsi makanan MBG dan memilih membawa bekal dari rumah. “Nggak mau (MBG lagi), trauma. Bawa bontot (bekal) saja dari rumah kalau lapar,” tegasnya.
Kasus yang dialami Krismas menunjukkan bahwa keamanan makanan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program pemberian makanan kepada siswa. Selain pemulihan kondisi fisik korban, pengalaman tersebut juga dapat meninggalkan rasa takut yang masih dirasakan setelah kejadian berlalu.
Kejadian tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya kebersihan dan keamanan makanan dalam penyelenggaraan program MBG. Winda berharap kejadian serupa tidak kembali dialami siswa lainnya. Menurutnya, program tersebut memiliki tujuan yang baik, tetapi proses penyediaan makanan perlu memperhatikan kebersihan secara lebih ketat.
