UMP Berdayakan Remaja Panti Asuhan, Bekali Kesiapan Kerja dan Kewirausahaan di Era AI

PURWOKERTO — Memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan menjadi tantangan tersendiri bagi remaja yang akan meninggalkan panti asuhan. Tidak cukup hanya memiliki ijazah, mereka juga membutuhkan kesiapan mental, keterampilan kerja, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk menciptakan peluang ekonomi.
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM UMP) melaksanakan program pemberdayaan remaja Panti Asuhan Dharmoyuwono Purwokerto melalui hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Regular Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program yang dilaksanakan sejak April hingga Agustus 2026 tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Remaja Panti Asuhan di Purwokerto melalui Model Career Readiness Berbasis Psikologi Kewirausahaan untuk Meningkatkan Kemandirian Kerja dan Kesejahteraan Psikososial.”
Program dirancang untuk mempersiapkan remaja menghadapi masa transisi menuju kehidupan mandiri dengan pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan mental, kesejahteraan psikososial, kesiapan karier, literasi dunia kerja, dan psikologi kewirausahaan.
Ketua tim pengabdian, Uswatun Hasanah, S.Psi.,M.A, mengatakan bahwa kesiapan remaja memasuki dunia kerja tidak dapat hanya dilihat dari kemampuan teknis.
“Remaja perlu memiliki kesiapan secara utuh. Mereka perlu mengenali potensinya, memiliki kesehatan mental yang baik, mampu beradaptasi, memiliki keterampilan kerja, serta berani melihat peluang dan menciptakan sesuatu yang produktif,” ujarnya.
Dari Penguatan Psikososial hingga Kesiapan Karier
Rangkaian kegiatan diawali dengan penguatan psikososial dan pemetaan potensi peserta. Remaja diajak memahami kekuatan diri, membangun kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan menghadapi tantangan, serta membangun hubungan sosial yang positif.
Tahapan selanjutnya diarahkan pada career readiness, meliputi pengenalan dunia kerja, komunikasi profesional, manajemen diri, perencanaan karier, simulasi wawancara, kerja sama tim, pemecahan masalah, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja.
Pendekatan psikologi kewirausahaan juga menjadi bagian penting dalam program. Peserta didorong untuk tidak hanya memiliki orientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga memiliki mentalitas pencipta peluang.
Melalui kegiatan praktik, para peserta mulai menghasilkan berbagai produk, antara lain buket bunga dan hampers hadiah. Produk tersebut menjadi media pembelajaran untuk mengenalkan proses produksi, kreativitas, pembagian tugas, kerja sama tim, pengenalan konsumen, hingga dasar pemasaran.
Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada pelatihan di dalam kelas, tetapi memberikan pengalaman nyata kepada peserta untuk menghasilkan produk dan mengenali potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Career Passport Menjadi “Identitas Karier” Remaja
Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah Career Passport, yaitu dokumen pengembangan karier yang dirancang agar setiap peserta memiliki rekam perjalanan dan kesiapan menuju dunia kerja.
Career Passport memuat profil diri, kekuatan dan keterampilan, minat karier, pengalaman organisasi dan kegiatan, karya, target karier, rencana pengembangan keterampilan, hingga kesiapan melamar pekerjaan.
Career Passport juga terhubung dengan e-portfolio digital yang dapat menyimpan berbagai bukti kompetensi peserta, seperti sertifikat, foto kegiatan, hasil karya, proyek, pengalaman organisasi, maupun pengalaman kewirausahaan.
“Kami ingin mereka tidak hanya memiliki CV ketika nanti mencari pekerjaan. Mereka juga memiliki bukti tentang apa yang sudah mereka lakukan dan keterampilan apa yang mereka miliki,” kata Uswatun.
Menghubungkan Potensi Remaja dengan Dunia Kerja
Program ini juga mengembangkan dashboard digital sederhana yang diharapkan dapat menjadi jembatan antara remaja dengan peluang kerja, magang, pelatihan, maupun mitra usaha.
Melalui sistem tersebut, profil kompetensi dan portofolio peserta dapat diperkenalkan secara lebih sistematis kepada pihak yang membutuhkan tenaga kerja atau membuka peluang pengembangan keterampilan.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari konsep Dharma Yuwono Career Hub, yang mengintegrasikan ruang belajar dan pengembangan diri, Career Passport, pembelajaran digital, praktik kewirausahaan, serta jejaring mentor.
Dipersiapkan Menghadapi Dunia Kerja yang Dinamis
Perubahan teknologi, termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI), juga menjadi bagian dari pembekalan peserta. AI diperkenalkan bukan sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai teknologi yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran dan kesiapan karier.
Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi untuk mencari informasi karier, mengembangkan keterampilan, menyusun CV, melakukan simulasi wawancara, mencari ide usaha, hingga mengembangkan karya digital.
Di sisi lain, peserta juga diarahkan untuk tetap mengembangkan kemampuan manusia yang penting dalam dunia kerja, seperti komunikasi, empati, kreativitas, kerja sama, tanggung jawab, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan beradaptasi.
Membangun Kemandirian dan Kesejahteraan Psikososial
Menurut Uswatun, program ini tidak semata-mata diarahkan agar peserta segera mendapatkan pekerjaan, tetapi membangun fondasi agar mereka lebih siap menjalani kehidupan setelah meninggalkan panti.
Kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial ditempatkan sebagai bagian penting dari kesiapan tersebut. Peserta didorong untuk memiliki tujuan hidup, optimisme, kemampuan menghadapi kegagalan, relasi sosial yang sehat, serta keberanian untuk terus belajar.
“Kami berharap pengalaman selama program dapat menjadi modal psikologis dan sosial bagi mereka ketika menghadapi dunia nyata. Mereka perlu percaya bahwa keterbatasan masa lalu bukan batas bagi masa depan,” ungkapnya.
Selama pelaksanaan program, antusiasme peserta terlihat dalam berbagai kegiatan pelatihan, diskusi, praktik, simulasi, maupun pengembangan produk. Peserta juga mulai memiliki pengalaman dan bukti karya yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam Career Passport dan e-portfolio.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Regular Kemdiktisaintek yang dilaksanakan melalui LPPM UMP tersebut diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan selesai. Model yang dikembangkan diarahkan agar dapat terus digunakan oleh pengurus panti untuk mendampingi remaja dalam merencanakan karier, mengembangkan keterampilan, memperbarui portofolio, dan membangun jejaring dengan dunia kerja.
Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan kemandirian kerja, kesehatan mental, kesejahteraan psikososial, dan kesiapan ekonomi generasi muda, sekaligus menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi pada kelompok remaja rentan lainnya.
