Inovasi Ekonomi Hijau di Alasmalang Banyumas: Mengubah Ancaman Bencana Limbah Durian Menjadi Peluang Usaha

Inovasi pengelolaan limbah kulit dan biji durian menjadi olahan bernilai ekonomi, seperti keripik kulit durian, basreng biji durian, dodol, hingga kerajinan serat (isian bantal dan gantungan kunci). Warga Desa Alasmalang Banyumas yang digerakkan oleh lebih dari 100 orang lintas kelembagaan, meliputi Kelompok Wanita Tani (KWT), Pokdarwis, Karang Taruna, BUMDes, serta didukung oleh Kepala Desa Alasmalang (Katam) dan warga seperti Roniyah.
Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dilaporkan pada 20 Agustus 2026. Praktik ini berkembang sejak penetapan desa sebagai lokasi Program Kampung Iklim (Proklim) yang menjadi titik balik perubahan perilaku masyarakat.
Desa Alasmalang merupakan sentra durian dengan volume limbah mencapai 6 hingga 16 ton per tahun. Sebelumnya, kebiasaan membuang limbah ke selokan memicu penyumbatan dan luapan sungai yang merendam permukiman ratusan KK.
Kulit durian dikeringkan dan diolah menjadi serat tekstil untuk kerajinan tangan atau diekstrak menjadi camilan olahan bersama bijinya. Produk tersebut dijual dengan kisaran harga Rp10.000 (gantungan kunci), Rp15.000 (keripik kulit 250g), Rp20.000 (basreng biji), hingga Rp80.000/kg (dodol).
Fenomena yang terjadi di Desa Alasmalang menunjukkan keberhasilan penerapan model ekonomi sirkular berbasis komunitas (community-based circular economy). Kebijakan pengelolaan sampah organik di tingkat lokal terbukti mampu mengatasi dua permasalahan utama secara bersamaan: ancaman lingkungan dan ketimpangan ekonomi.
1. Transformasi Ekologis dan Mitigasi Bencana
Sebagai daerah penghasil durian skala besar, akumulasi limbah organik hingga 16 ton per tahun sempat menjadi “bom waktu” ekologis. Praktik pembuangan limbah sembarangan ke saluran air menyebabkan penyumbatan infrastruktur drainase dan memicu banjir tahunan yang merugikan pemukiman warga. Melalui pendekatan Program Kampung Iklim (Proklim), pemanfaatan limbah menjadi bahan baku produksi berhasil mengurangi volume sampah secara signifikan. Dampak langsungnya adalah penurunan risiko banjir serta terciptanya lingkungan permukiman yang lebih bersih dan berkelanjutan.
2. Diversifikasi Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat
Inovasi ini tidak sekadar membersihkan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah (added value) dari bahan yang semula tidak bernilai. Pengolahan serat kulit durian menjadi souvenir dan pemanfaatan biji durian menjadi olahan kuliner membuka sumber pendapatan baru bagi warga, khususnya kelompok perempuan melalui KWT. Integrasi antara BUMDes, Karang Taruna, dan Pokdarwis memperkuat rantai pasok lokal dan berpotensi mendukung pengembangan Desa Alasmalang sebagai destinasi wisata edukasi kuliner durian terpadu di masa depan.
Langkah kolektif warga Alasmalang Banyumas membuktikan bahwa masalah lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi berkat adanya perubahan paradigma dan kolaborasi antar-elemen masyarakat. Model pemanfaatan limbah ini layak dijadikan percontohan nasional untuk daerah berbasis agrowisata dalam mewujudkan ketahanan iklim dan kemandirian ekonomi desa.
